SELAMAT HARI RAYA NATAL 2011

"Damai di Bumi, Damai di Hati"

BEM FIKOM 2011/2012

Taat dan setia pada Tri Dharma Perguruan Tinggi

LDK Fikom

Latihan Dasar Kepemimpinan, sebuah proses awal dari langkah sang pemimpin.

LDK Fikom

Setiap individu tercipta sebagai seorang pemimpin.

Makrab Fikom

Satu dalam kebersamaan insan komunikasi

Makrab Fikom

Senyum Fikomers 2010.

Makrab Fikom

Life is a games

Communication Days 2010

Peserta Commdays 2010

Communication Days 2010

Praktisi PR: Makroen Sanjaya (Metro TV), Iskandar Tumbuan (Mandiri Bank), Ratu Maulia Ommaya (The Bodyshop Indonesia) bersama Ibu Nawiroh Vera dan Beryl Masdiary.

Communication Days 2010

Michael Gumelar (praktisi DKV), Wahyu Aditya (Animator), bersama Ibu Riyodina (dosen) dan Ibu Liza Dwi Ratna Dewi (Dekan FIKOM).

Communication Days 2010

Atmadji Sumarkidjo (Wartawan Senior), Herwin Krisbianto (Produser TV One), Medya Apriliansyah (dosen), dan Prabu Revolusi (News Anchor Metro TV).

Communication Days 2010

Organizer Communication Days 2010

Senin, 23 Mei 2011

BEDAH FILM

Beberapa waktu yang akan datang, tepatnya pada tanggal 31 MEI 2011. BEM FIKOM UBL mengadakan kegiatan "BEDAH FILM". Tema kebangsaan dipilih guna membangkitkan semangat cinta bangsa dan patriotis di dalam diri mahasiswa, khususnya Fikom. Kali ini, divisi KPA (Kelompok Pengembangan Akademik) mengangkat film yang berjudul "Naga Bonar jadi 2".

Target peserta dari acara ini diantaranya yaitu mahasiswa UBL khususnya Fakultas Ilmu Komunikasi
film 'sentilan' karya Deddy Mizwar ini bercerita tentang Alur cerita berputar tentang hubungan Nagabonar (Deddy Mizwar) dan Bonaga (Tora Sudiro) dalam suasana kehidupan anak muda metropolis. Bonaga, seorang pengusaha sukses, mendapat proyek pembangunan resort dari perusahaan Jepang. Sialnya, lahan yang diincar perusahaan Jepang tersebut tak lain adalah lahan perkebunan sawit milik ayahnya, Nagabonar. Maka Bonaga pun memboyong ayahnya ke Jakarta agar dia bisa membujuk Nagabonar menjual lahan tersebut.
Usaha Bonaga tak berhasil. Kekeraskepalaan Nagabonar untuk mempertahankan lahan perkebunan (di mana di sana juga terdapat makam istri, Ibu dan temannya si bengak Bujang) semakin menjadi-jadi ketika tahu calon pembeli tanahnya adalah perusahaan Jepang (yang masih dianggapnya penjajah).
Sementara Nagabonar dan Bonaga berusaha untuk saling memahami cara pandang dan nilai-nilai satu sama lain, tenggat waktu untuk Bonaga semakin mendekat.
Namun, pada akhirnya Bonaga membatalkan perjanjian tersebut, karena ia tau ayahnya sebenarnya berat untuk menyetujui hal tersebut, ia tidak mau membuat ayahnya sedih, karena ia sangat menyayangi ayahnya. Semoga dengan diadakannya event ini, ddiharapkan mahasiswa Fikom Universitas Budi Luhur semakin maju dan cerdas dalam generasi yang berkompeten.

Selasa, 10 Mei 2011

Bagan Kurikulum Fikom UBL

Fikomers, berikut ini adalah Bagan Kurikulum Prodi Ilmu Komunikasi, dibagi per Konsentrasi, silakan amati, unduh, pelajari kemudian rencanakan perkuliahan dengan baik.

bagan Broadcast Journalism:

bagan Public Relation:


bagan Visual Communication:


bagan Advertising:

Silakan diunduh dengan cara klik kanan, kemudian save image as (atau : simpan gambar dengan nama).


source: FIKOM UBL

[Undangan] Seminar Bahaya Laten Negara


Pesan terusan:

Pada tanggal 11 Maret 2011, KOMPAS memuat tulisan Rm. Franz Magnis-Suseno SJ, yang berjudul 45 Tahun Supersemar. Dalam tulisan itu, Rm. Magnis mengkritik Negara yang tidak melakukan upaya rekonsiliasi sama sekali terhadap keluarga-keluarga korban pembantaian oleh militer yang mengatasnamakan penumpasan gembong PKI (Partai Komunis Indonesia). Menurut Harry Tjan Silalahi, biasanya mayoritas yang mencoba memahai minoritas, tapi di Indonesia ini justru minoritas yang dipaksa untuk memahami mayoritas.

Berangkat dari tulisan tersebut, Senat Mahasiswa STF Driyarkara bekerjasama dengan tim Jurnal Driyarkara, bermaksud mengadakan seminar publik tentang Komunisme di Indonesia. Bagian dari tulisan tersebut yang perlu ditanggapi adalah sikap pemerintah saat itu yang melakukan pembiaran terhadap peristiwa pembantaian pengikut PKI. Tentu kami tidak bermaksud untuk membela komunisme, atau memperbaiki citra komunisme atau mengangkat jasa komunisme (Menurut Rm. Magnis hal itu amat sulit, karena bagaimanapun ideologi komunisme itu juga problematis. Ratusan juta orang juga mati akibat ulah para komunis itu). Yang perlu diupayakan adalah Rekonsiliasi dengan para korban. Di Indonesia, para komunis justru diteror oleh pemerintah (sementara di negara lain komunis yang menjadi teror). Mereka menjadi korban. Teror pemerintah itu masih ada sampai sekarang yaitu kurangnya pembelaan terhadap kaum minoritas ketika dominasi kelompok mayoritas menekan minoritas bahkan dengan kekerasan.

Maka, para pembicara yang dihadirkan akan mengupas peristiwa PKI 1965, tidak dari sisi historisitas, tetapi meninjau dan menggugat sikap pemerintah terhadap genosida tahun 1965 dan pembelaan pemerintah periode sekarang terhadap dominasi mayoritas dengan kekerasan.

Ada tiga pembicara yang diundang, yaitu 
  1. Baskara Tulus Wardaya SJ, 
  2. M. Imam Aziz, dan 
  3. I Gusti Agung Putri. 
Moderator seminar : I Gusti Agung Anom Astika.
Dan ditutup oleh Rm. Franz Magnis-Suseno SJ sebagai keynote speaker.

Seminar ini hanya akan diadakan satu sesi di auditorium STF pada 
hari Sabtu, 14 Mei 2011, pkl. 10.00-13.00.
(disediakan makan siang). tanpa biaya akomodasi. 
info lebih lanjut: http://www.driyarkara.ac.id/

Sabtu, 07 Mei 2011

Indonesia Mengajar: Jadilah Pengajar Muda III



Melalui Indonesia Mengajar, kita mengajak putra-putri terbaik di republik ini, generasi baru yang terdidik, berprestasi dan memiliki semangat juang untuk menjadi Guru SD selama 1 tahun di pelosok Indonesia.

Indonesia Mengajar adalah sebuah ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia Mengajar tidak berpretensi untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia. Indonesia Mengajar meyakini bahwa hadirnya putra-putri terbaik Indonesia sebagai guru mendorong peningkatan kualitas pendidikan kita.

Indonesia Mengajar yakin bahwa pendidikan adalah sebuah gerakan. Pendidikan bukan sekedar program yang dijalankan pemerintah, sekolah dan para guru. Pendidikan adalah gerakan mencerdaskan bangsa yang harus melibatkan semua orang. Ini semua didasarkan pada keyakinan kita bahwa mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Indonesia Mengajar menempatkan sarjana-sarjana terbaik di pelosok negeri. Kehadiran mereka disana untuk mengajar, mendidik, menginspirasi dan menjadi jembatan bagi masyarakat desa-desa dengan pusat-pusat kemajuan. Di pelosok negeri itu, para Pengajar Muda akan memiliki kawan baru, rumah baru, dan keluarga baru. Desa-desa itu akan selalu menjadi bagian dari diri mereka. Begitu juga sebaliknya, para Pengajar Muda itu akan meninggalkan ilmu, inspirasi dan kenangan di masyarakat desa di pelosok negeri. Tanda pahala para Pengajar Muda itu akan membekas di setiap prestasi anak-anak dan di setiap kemajuan di desa-desa. Indonesia Mengajar yakin bahwa itu semua adalah rajutan erat yang akan menguatkan tenun kebangsaan kita.

Indonesia Mengajar yakin bahwa "Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi"
- Anies Baswedan -
  
Mulailah cerita besar-mu dari langkah kecil pertama-mu...
Jadilah Pengajar Muda angkatan berikutnya!

Apakah Anda generasi muda terbaik bangsa ini? 
Indonesia Mengajar mengundang Anda menjadi Calon Pengajar Muda angkatan III. Pendaftaran berlangsung pada 20 April - 31 Mei 2011 secara online. Mau tahu syaratnya?
  • Sarjana (Min. S1)
  • Fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu
  • WNI dan belum menikah
  • Diutamakan berusia tidak lebih dari 25 tahun
  • Diutamakan IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0
  • Berprestasi (di dalam ataupun di luar kampus)
  • Mengedepankan jiwa kepemimpinan yang ditunjukkan dengan pengalaman berorganisasi
  • Mengedepankan kepedulian sosial dan semangat pengabdian
  • Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya belajar-mengajar
  • Menghargai dan berempati terhadap orang lain
  • Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving
  • Memiliki hobi atau ketrampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat
  • Sehat secara fisik dan mental
  • Bersedia ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun

ayo Fikomers... 
apakah diantara anda merasa memenuhi persyaratan di atas?
Segera daftarkan diri Anda di sini!

Sejarah Garuda Pancasila

Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II masih menampilkan bentuk tradisional Garuda yang bertubuh manusia (Foto: Jakarta 45, Shangkala, History, Art & Culture Nusantara)

Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II masih menampilkan bentuk tradisional Garuda yang bertubuh manusia. Rancangan ini didapat setelah penyelenggaraan sayembara. Ketika itu, terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali, karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950.
Garuda Pancasila yang diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, masih tanpa jambul dan posisi cakar di belakang pita (Foto: Jakarta 45, Shangkala, History, Art & Culture Nusantara)

Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan “jambul” pada kepala Garuda Pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat. Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak berubah hingga kini.

Sumber: TempoInteraktif, Kepustakaan Presiden RI

blog-indonesia.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More