Communication Days 2010
Praktisi PR: Makroen Sanjaya (Metro TV), Iskandar Tumbuan (Mandiri Bank), Ratu Maulia Ommaya (The Bodyshop Indonesia) bersama Ibu Nawiroh Vera dan Beryl Masdiary.
Communication Days 2010
Michael Gumelar (praktisi DKV), Wahyu Aditya (Animator), bersama Ibu Riyodina (dosen) dan Ibu Liza Dwi Ratna Dewi (Dekan FIKOM).
Communication Days 2010
Atmadji Sumarkidjo (Wartawan Senior), Herwin Krisbianto (Produser TV One), Medya Apriliansyah (dosen), dan Prabu Revolusi (News Anchor Metro TV).
Minggu, 27 Maret 2011
SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI (Bag. I)
Oleh: Drs. Zamris Habib, M.Si, Dosen Komunikasi UMJ dan UIN Jakarta
Komunikasi
adalah salah satu aktivitas yang sangat fundamental dalam kehidupan
umat manusia. Kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan sesamanya,
diakui oleh hampir semua agama telah ada sejak masa Adam dan Hawa.
Sifat manusia untuk menyampaikan keinginannya dan untuk mengetahui
hasrat orang lain, merupakan awal keterampilan manusia berkomunikasi
secara otomatis melalui lambang-lambang isyarat, kemudian disusul dengan
kemapuan untuk memberi arti setiap lambang-lambang itu dalam bentuk
bahasa verbal.
Kapan manusia mulai mampu berkomunikasi dengan manusia lainnya, tidak
ada data autentik yang dapat menerangkan tentang hal itu. Hanya saja
diperkirakan bahwa kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan orang
lain secara lisan adalah peristiwa yang berlangsung secara mendadak.
Everett M. Rogers menilai peristiwa ini sebagai generasi pertama
kecakapan manusia berkomunikasi sebelum mampu mengutarakan pikirannya
secara tertulis.[1]
Usaha-usaha untuk manusia berkomunikasi lebih jauh, terlihat dalam
berbagai bentuk kehidupan mereka di masa lalu. Pendirian tempat-tempat
pemukiman di daerah aliran sungai dan tepi pantai, diplih untuk
memudahkan mereka dapat berkomunikasi dengan dunia luar menggunakan
perahu, rakit, dan sampan. Pemukul gong di Romawi dan pembakar api yang
mengepulkan asap di Cina adalah simbol-simbol komunikasi yang dilakukan
oleh para serdadu di medan perang.
Dalam berkomunikasi, manusia menggunakan lebih banyak gerak-gerik,
sikap tubuh dan mimik, tetapi perumusan pesan itu sendiri lebih
dimungkinkan oleh adanya bahasa dan lambang-lambang yang dapat dipahami
bersama.
Kemampuan
untuk menggambar atau menuliskan lambang-lambang yang memiliki arti
adalah sutau keunikan dari spesies manusia, dan ini menjadi salah satu
perbedaan paling signifikan antara manusia dengan mahluk yang lain di
bumi ini. Manusia sudah mulai menggambar dan melukis lambang-lambang di
batu sejak tahun 35.000 SM, dan ilustrasi-ilustrasi serupa ini menjadi
sebuah bagian penting dalam kehidupan manusia selama berabad-abad.[2]
Perkembangan
komunikasi antarmanusia tidak terlepas dari pengaruh naluri kemanusiaan
itu sendiri. untuk bertahan hidup manusia membutuhkan manusia yang
lainnya untuk saling membantu. Sementara pada tahapan saling memberikan
bantuan inilah proses komunikasi akan sangat dibutuhkan.
A. Zaman Tanda dan Isyarat
Zaman
ini merupakan yang paling awal dalam sejarah perkembangan manusia dan
muncul jauh sebelum nenek moyang manusia dapatberjalan tegak. Dalam
berkomunikasi satu sama lain, peran insting (meskipun masih sangat
rendah) sangatlah penting. Proses komunikasi manusia lebih berdasarkan
insting dan bukan rasionya.
Itu
semua terjadi karena kemampuan kapasitas otak manusia masih sangat
terbatas. Perkembangan otak mereka juga sangat lamban. Oleh karena itu,
zaman ini berjalan dalam ribuan tahun sebelum digunakannya gerak
isyarat. Bunyi-bunyian dan tanda jenis lain dalm komunikasi.
Dengan
kata lain sebenarnya manusia itu sudah menggunakan “ucapan” dalam
berkomunikasi. Akan tetapi proses komunikasi yang dmaksud bukan seperti
yang dilakukan manusia saat ini.[3]
Penggunaan
tanda dan isyarat itu tidak berarti bahwa manusia pada zaman tersebut
tidak dapat berkomunikasi. Gerak isyarat dan tanda itu dalam komunikasi
dikenal dengan komunikasi nonverbal. Hal ini tetap bisa dikattakan
berkomunikasi meskipun dengan “bahasa” dan kemampuannya sendiri.
Ringkasnya, merekamengadakan komunikasi dengan sederhana sekali.
Philip
Liberman (1984) pernah mengatakan bahwa para ahli paleoantropologi
menemukan bukti bahwa ukuran tengkorak panjang lidah, dan jaringan yang
lain pada manusia menunjukkan pada kita letak pangkal tenggorokan dan
kotak siara.
Menurut
para ahli tersebut dilihat dari beberapa alat tubuh, dapat disimpulkan
bahwa manusia jaman dahulu kala tidak dapat berbicara seperti manusia
sekarang.
Dengan
kata lain, mereka tidak bisa berbicara, karena tidak mempunyai
kecukupan alat-alat untuk melakukan itu (seperti yang dimiliki manusia
saat ini). Ini disebabkan struktur neurologis dan anatominya tidak
mecukupi untuk melakukan hal itu.
Sehingga
perkembangan zaman dan alam yang akhirnya merubah kehidupan manusia
tersebut, baik perubahan dalam bentuk fisik maupun perubahan pada
kemampuan berpikir dan berkomunikasi.
Lebih
dari beribu-ribu tahun lamanya, pola komunikasi tidak hanya digunakan,
tetapi juga mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu, tentunya sesuai
dengan kapasitas yang dimiliki. Meskipun ada perkembangan dalam proses
komunikasi, proses itu belum mengarah pada penggunaan bahasa atau
percakapan sebagai alat komunikasi yang bisa dilakukan manusia dewasa
ini. Perkembangan penting komunikasi dalam era ini adalah digunakannya
bahasa tanda dan isyarat sebagai alat komunikasi. Munculnya tanda dan
isyarat sebagai alat komunikasi berasal dari penyempurnaan penggunaan
suara (geraman, tangisan, dan jeritan) sebagai alat komunikasi.[4]
B. Zaman Bahasa Lisan
Zaman
komunikasi lisan ini berjalan kira-kira 300.000 sampai 200.000 tahun
SM. Era ini juga ditandai dengan lahirnya embrio kemampuan untuk
berbicara dan berbahasa secara terbata-bata dalam kelompok masyarakat
tertentu. Oleh karena itu, manusia pada zaman ini sering disebut dengan homosapiens.
Daripenelitian yang pernah dilakukan, kemmapuan berbicara dalam sistem
bahasa baru terjadi sekitar 90.000 tahun sampai 40.000 tahun SM.
Sementara itu bahasa secara lengkap mulai digunakan kira-kira 35.000
tahun SM.
Manusia
jenis Cro Magnon menjadi ciri utama era ini. Di awal periode
kehidupannya, mausia jenis itu sudah mempunyai keahlian di dalam membuat
peralatan yang berasal dari batu. Sebagaimana kita ketahui, budaya
manusia awalnya dimulai dengan tulisan. Zaman Batu merupakan salah satu
perkembangan awal pengenalan bahasa yang ditulis (meskipun hanya berupa
gambar yang di buat pada batu).
Meskipun
perkembangan teknologi komunikasi diawali dengan penemuan-penemuan
mesin pencetak huruf di kemudian huruf, namun perkembangan komunikasi
itu sendiri dimulai dengan kepandaian melukis hewan buruan di gua-gua
yang diabadikan secara grafik kurang lebih 20.000 tahun yang lalu.[5]
Pada
awal sejarah perkembangan manusia dalam mengenal tulisan, mereka telah
memahat atau mengukir gambar binatang dan manusia pada tulang, batu,
taring, dan bahan-bahan yang lain. Manusia pada era ini biasanya
mewariskan lukisan indah pada dinding beberapa gua di daerah mereka
tinggal. Ratusan gua itu pernah ditemukan di Spanyol dan Perancis bagian
selatan.
Hampir
setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya,
dan kebutuhan ini terpenuhi malaui pertukaran pesan yang berfungsi
sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa
berkomunikasi akan terisolasi. Pesan-pesan ini mengemuka lewat perilaku
manusia.
Ketika
kita berbicara, kita sebenarnya sedang berperilaku. Ketika kita
melambaikan tangan, tersenyum, bermuka masam, menganggukkan kepala, atau
memberikan suatu isyarat, kita juga sedang berperilaku. Sering
perilaku-perilaku ini merupakan pesan-pesan, pesan-pesan itu kita
gunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain.[6]
C. Zaman Tulisan
Kecakapan
manusia berkomunikasi secara lisan menurut perkiraan berlangsung
sekitar 50 juta tahun, kemudian memasuki generasi kedua di mana manusia
mulai memiliki kecakapan berkomunikasi melalui tulisan.
Bukti
kecakapan ini ditandai dengan ditemukannya tanah liat yang bertulis di
Sumeria dan Mesopotamia sekitar 4000 tahun sebelum masehi. Kemudian
berlanjut dengan ditemukannya berbagai tulisan di kulit binatang dan
batu arca. Lalu secara berturut-turut dapat disebutkan pemakaian huruf
kuno di Mesir (3000 tahun SM), alphabet Phunesia (1800 tahun SM), huruf
Yunani Kuno (1000 tahun SM), huruf Latin (600 tahun SM).[7]
Di
Mesopotamia kuno (berasal dari kata dalam bahasa Yunani yang berarti
“tanah di antara dua sungai”) banyak sekali kelompok yang menghentikan
pengembaraannya dan mulai membangun tempat tinggal yang permanen. Inilah
kota-kota yang pertama. Tahun 6000 SM, Lembah Sabit Subur juga menjadi
tempat lahirnya peradaban.
Mendekati
tahun 3.500 SM, manusia memiliki gagasan untuk mengembangkan
serangkaian lambang yang sederhana yang dapat dipahami oleh kalangan
luas, yaitu huruf. Huruf mewakili suara yang diucapkan dan dengan
berbagai cara, satu huruf dapat digabungkan dengan huruf lain sehungga
membentuk apa yang kita namkan kalimat. Sistem ini disebut abjad
fonetik.
Abjad
fonetik yang pertama berasal dari abjad baji yang dikembangkan oleh
orang Sumeria kuno. Penyebarannya yang luas hingga ke wilayah
Mesopotamia membuatnya menjadi pendahulu hieroglif Mesir. Abjad Baji lah
yang menjadi cikal bakal Abjad Ibrani maupun Abjad Arab. Selain itu, ia
juga merintis abjad Yunani, yang pada gilirannya mengantar hadirnya
Abjad Romawi yang kini digunakan dalam Bahasa Inggris, Perancis, Jerman
dan sebagian besar bahasa-bahasa barat lainnya.
Abjad
Sirilik yang digunakan di Rusia dan di negara-negara Slavia lain juga
berkembang dari Abjad Yunani kuno. Abjad Cina yang lahir beberapa waktu
kemudian setelah Abjad Tinur Tengah kuno, dipinjam oleh sebagian besar
bangsa Asia, misalnya Jepang dan Korea, untuk dijadikan dasar abjad yang
digunakan dalam bahasa masing-masing.[8]
Umat manusia sudah berada di muka bumi ini setengah juta tahun yang silam. Tulang-belulang Australopithecus
yang baru-baru ini ditemukan, makhluk yang menyerupai kera yang oleh
para ilmuwan dipercayai sebagai nenek moyang manusia modern, usianya
empat juta tahun.
Ada
juga sebuah bukti bahwa 30.000 tahun yang lalu manusia sudah membuat
peralatan dan hidup berkelompok di seluruh benua. Juga ditemukan
petroglif, atau lukisan batu, yang usianya kurang-lebih 10.000 tahun,
dan ada lukisan-lukisan rumit di dinding-dinding gua di Spanyol maupun
Perancis yang kira-kira berumur 18.000 tahun.[9]
Sejarah
tulisan sendiri merupakan salah satu dari proses pergantian dari
gambaran piktografi ke sistem fonetis, dari penggunaan gambar ke
penggunaan sesederhana untuk menyatakan maksud yang lebih spesifik.[10]
Tahun
yang menandai manusia membentuk kelompok atau hidup bergerombol untuk
pertama kalinya adalah athun 20.000 SM. Beberapa kelompok manusia hidup
bersama di sebuah kemah yang acap kali dibuat setengah permanen.
Awalnya,
mereka tidak pernah menetap di suatu tempat, karena sifat dasar manusia
adalah mengembara. Mereka berpindah tempat sesuai dengan musim dan
menetap untuk sementara di suatu tempat d mana ditemukan sumber makanan
mereka, antara lain, binatang buas dan tanaman musiman.
Setelah
berlangsung ribuan tahun lamanya, sampailah manusia ke zaman tulisan
(zaman ini muncul sekitar 5000 tahun sebelum masehi). Komunikasi tidak
lagi dilakukan hanya dengan mengandalkan lisan, tetapi didukung pula
oleh bahasa tulis.
Sebuah
prasasti yang ditemukan menginformasikan bahwa sekitar 4000 tahun SM
ditemukan kota kuno di Mesopotamia dan Mesir. Sebagaian besar prasasti
ini menggambarkan lukisan dengan kasar atau goresan pada dinding
bangunan.
Dari
penemuan prasasti ini bisa dikemukakan bahwa sudah ada standarisasi
makna pesan. Misalnya, secara sederhana gambaran matahari bisa berarti
siang hari, membungkuk dengan tanda panah berarti memburu, dan garis
yang berombak berarti danau atau sungai. Semua ini menjadi simbol awal
dari sejarah kemunculan era tulisan.
Beberapa
lukisan di antaranya sudah mengunakan komposisi warna. Bahkan lukisan
tersebut menjadi cikal bakal lukisan-lukisan saat ini. Manusia di zaman
ini melukis banteng, rusa kutub, dan binatang lain yang mereka buru. Dan
yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah membuat pakaian dari
kulit binatang dan menmukan teknik pengerasan tanah liat dengan
menggunakan api.
Lukisan-lukisan
yang dibuat oleh manusia jenis Cro Magnon ini bisa dikatakan menjadi
bukti pertama usaha manusia terbaik pertama dalam upayanya menyimpan
informasi.[11]
Sementara
itu tulisan alfabet muncul kurang dari seratus tahun kemudian dan
berkembang secara cepat. Tulisan tersebut menyebar ke seluruh dunia
kuno, dan baru beberapa abad kemudian sampai ke negeri Yunani. Lambat
laun gagasan penggunaan simbol huruf konsonan dan vokal muncul. Saat itu
karakter yang dibutuhkan kurang lebih seratus. Suatu jumlah yang sangat
besar tentunya, karena padahal sekarang ini kita hanya mengenal dua
pulu enam karakter huruf.
Sesudah
banyak variasi pembahasan sejarah perkembangan tulisan, satu kejadian
yang tidak boleh kita tinggalkan adalah peristiwa di Yunani. Bangsa ini
telah secara efektif dan sederhana mempunyai sistem standarisasi huruf.
Sekitar 500 tahun SM, mereka telah secara luas menggunakan alfabet.
Akhirnya, alfabet orang-orang Yunani masuk ke Roma yang kemudian
dibangun serta dimodifikasi. Dewasa ini, kita menggunakan huruf-huruf
kapital (majuscule) dan huruf kecil (miniscule) yang berasal dari Roma itu.
Lambat
laun sistem tulisan alfabet ini berkembang secara cepat dan lengkap.
Tanpa bantuan sistem tulisan ini bisa jadi populasi penduduk yang buta
huruf akan menjadi lebih besar. Perkembangan yang penting pun terjadi
pula dalam ilmu pengetahuan, lukisan, pemerintahan, dan keagamaan.
Sekitar
2500 tahun (sebelum munculnya agama Kristen), orang Mesir menemukan
metode pembuatan jenis kertas yang dapat tahan lama dari papyrus. Dibandingkan dengan batu, papyrus jelas lebih baik. Alasannya lebih mudah menulis di papyrus dengan kuas dan tinta daripada memahat di atas batu. Papyrus itu sendiri asal-usulnya ditemukan di muara Sungai Nil. [12]
The
oldest books were quite unlike our modern ones. They were baked clay
tablets that were used about 5.500 years ago, in Babylon and Nineveh in
Asia Minor.
The
Egyptians who lived in the valley of the Nile found a better material
than clay to use for books. They used a reed-like plant, called
“papyrus”.[13]
“Media
Buku dahulu adalah lempengan tanah liat yang dibakar, yang digunakan
sekitar 5.500 tahun yang lalu, di daerah Babilonia dan Nineveh, sebuah
daerah di Asia Kecil.
Orang-orang
Mesir yang tinggal di Lembah Sungai Nil menemukan bahan yang lebih
bagus dari pada tanah liat untuk dibuat menjadi buku. Mereka menggunakan
semacam tanaman yang disebut dengan papyrus.”
D. Zaman Kemunculan Retorika
Sebagai
cikal bakal ilmu komunikasi, retorika mempunyai sejarah yang panjang.
Para ahli berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada. Akan
tetapi, retorika sebagai seni bicara yang dipelajari dimulai pada abad
kelima sebelum masehi, ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari
tempat yang satu ke tempat yang lain untuk mengajarkan pengetahuan
mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada
kemampuan berpidato.
Pemerintah,
menurut kaum Sofis, harus berdasrkan suara terbanyak atau demokrasi
sehingga perlu adanya usaha membujuk rakyat demi kemenangan dalam
pemilihan-pemilihan. Maka berkembanglah seni berpidato yang membenarkan
pemutarbalikan kenyataan demi mencapai tujuan, yang terpenting khalayak
bisa tertarik perhatiannya dan terbujuk.[14]
Orang yang pertama-tama dianggap memperkenalkan oratori atau seni
berpidato adalah orangYunanai Sicilia. Tetapi tokoh pendiri sebenarnya
adalah Corax dari Srakuasa (500 SM). Dialah yang mula-mula meltakkan
sistematika oratori atas lima bagian.[15]
Sudah sejak permulaan perkembangan retorika menimbulkan perbedaan
pendapat (kontroversi) mengenai beberapa hal yang menyangkut retorika.
Kontroversi tersebut menyangkut persoalan pamakaian unsur stilistika, menyangkut hubungan antara retorika dan moral, dan masalah pendidikan. dalam pidato-pidato.
Kontroversi pertama menyangkut persoalan: apakah perlu mempergunakan
unsur-unsur stilistika dalam pidato. Ada tiga aliran, yaitu yang
menyetujui penggunaan unsur stilistika, yang menolak, dan yang berada di
luar aliran pertama dan kedua.
Kontroversi
kedua menyangkut relasi antara retorika dan moral: apakah dalam pidato
harus juga diindahkan masalah moral. Dalam pidato biasanya tidak
dikemukakan pembuktian-pembuktian secara ilmiah. Pidato lebih banyak
berbicara mengenai kemungkinan-kemungkinan, karena pendengar biasanya
adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, atau orang-orang yang tidak
senang mendengarkan pidato. Sebab itu Gorgias dari Leontini,
berpendirian bahwa seorang orator harus menyampaikan bukti-bukti baik
mengenai keadilan dan ketidakadilan dengan cara yang sama baik.
Kontroversi
ketiga yang juga sudah timbul sejak permulaan perkembangan retorika
adalah masalah pendidikan. Kontroversi yang kedua mempunyai ikatan
dengan yang ketiga ini. Ahli-ahli retorika yang siap menerima tanggung
jawab moral dalam retorika, mengkritik rekan-rekan mereka yang mencoba
memperoleh keuntungan dalam profesi mereka, terutama dalam pengadilan.
Akibatnya mereka juga tidak mencapai kata sepakat mengenai topic mana
saja yang harus dimasukkan dalam pelajaran retorika di pusat-pusat
pendidikan.[16]
Betapa
pentingnya retorika dapat dilihat dari peranan retorika dalam
demokrasi. Dalam hubungan ini terkenal seorang orator bernama
Demosthenes (384-322) yang pada zaman yunani sangat termasyhur karena
kegigihannya mempertahankan kemerdekaan Athena dari ancaman Raja
Phillipus dari Macedonia.
Pada
waktu itu telah menaji anggapan umum bahwa di mana terdapat sistem
pemerintahan yang berkedaulatan rakyat, di situ harus ada pemilihan
berkala dari rakyat dan oleh rakyat untuk memilih pemimpin-pemimpinnya.
Di mana demokrasi menjadi sistem pemerintahan, di situ dengan sendirinya
masyarakat memerlukan orang-orang yang mahir berbicara di depan umum.
Demosthenes pada masa jayanya itu meningkatkan kebiasaan retorika yang berlaku pada zamannya, dan lebih menekankan pada:
a. Semangat yang berkobar-kobar
b. Kecerdasan pikiran,
c. Kelainan dari yang lain[17]
Sementara
itu di Romawiyang mengembangkan retorika adalah Marcus Tulius Cicero
(106-43 SM) yang menjadi termasyhur karena suaranya dan bukunya yang
berjudul antara lain de Oratore. Sebagai seorang orator yang
ulung, Cicero mempunyai suara yang beratmengalun, bahkan kadang-kadang
pidatonya itu disertai cucuran air mata.
Cicero mengajarkan bahwa dalam mempengaruhi pendengar-pendengarnya
seseorang retor harus meyakinkan mereka dengan mencermnkan kebenaran dan
kesusilaan. Dalam pelaksanaannnya retorika meliputi:
a. Investio
Ini
berarti mencari bahan dan tema yang akan dibahas. Pada tahap ini
bahan-bahan dan bukti-bukti harus dibahas secara singkat dengan
memperhatikan keharusan pembicara:
1. mendidik
2. membangkitkan kepercayaan
3. menggerakkan hati
b. Ordo Collocatio
Ini
mengandung arti menyusun pidato yang meminta kecakan si pembicara dalam
memilih mana yang lebih penting, mana yang kurang penting. Penyusun
pidato juga diminta untuk memperhatikan:
1. exordium (pendahuluan)
2. narratio (pemaparan)
3. confirmation (pembuktian)
4. reputation (pertimbangan)
Demikian retorika di Romawi yang banyak persamaannya dengan retorika yang berlaku d Yunani.
Aristoteles
berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa,
sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles,
John Locke (1632-1704), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini.
Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusi tidak mempunyai “warna
mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah
satu-satunya jalan kepemilikan pengetahuan.
Di
Yunani, sejak abad kelima sebelum masehi, terkenal sebuah tempat
pemujaan Apollo di Delphi. Ke tempat inilah raja-raja dan rakyat banyajk
meminta nasihat. Seorang pendeta wanita duduk di atas kursi yang
dipenuhi asap dari sajian pemujaan.
Dalam
keadaan fana, pendeta tersebut menjawab pertanyaan pengunjung, dari
masalah kontes lagu sampai urusan agama dan politik. Ketika
penjahat-penjahat di koloni Locri meminta nasihat bagaiman mengatasi
kekacauan, orakel Delphi menjawab: “Buat hukum bagimu.” Ketika
orang-orang bertanya siapa manusia paling bijak, dewa Apollo melalui
mulut pendeta Delphi menjawab: ”Socrates”. Dari Delphi menyebar motto
yang terkenal :Gnothi Seauthon (kenalilah dirimu).
Motto
ini mengusik para filsuf untuk mencoba memahami dirinya, sehingga
kabarnya motto inilah yang mendorong berkembangnya filsafat di Yunani.[19]
E. Perkembangan Teknik Pengiriman Pesan
Meskipun
ada anggapan yang mengatakan adalah ide yang menghasilkan pengetahuan,
tetapi baik ide maupun pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara
psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan
tempramen ditentukan oleh perilaku masa lalu.[20]
Apa
yang telah tejadi di masa lalu adalah sebuah pengalaman yang
mengajarkan hal-hal untuk sesuatu yang baru. Pengalaman akan kesulitan
berkomunikasi maupun pengiriman pesan dalam komunikasi itu sendiri telah
mengajarkan manusia untuk terus mencari dan menyempurnakan suatu proses
komunikasi yang lebih efektif daripada yang sebelumnya.
Misalnya
penentuan lambang atau simbol-simbol yang dipahami bersama, adalah
pengaruh dari keterbatasan dan kesulitan berkomunikasi pada masa
sebelumnya yang dikarenakan oleh belum ditentukannya kesamaan lambang
dan simbol tersebut.
Sejak
zaman primitif sampai sekarang, semua kelompok manusia tergantung pada
komunikasi tatap mata, berhadap-hadapan. Akan tetapi diperlukan adanya
sistem mengirim pesan untuk mengatasi ruang dan waktu.
Dikisahkan
bahwa Persia tua telah mendirikan serangkaian menara yang dinamakan
“pos seruan”, dan menempatkan orang yang bersuara nyaris dan keras
atasnya untuk meneruskan berbagai pesan dengan cara berteriak, beranting
dari satu menara ke lain menara.
Orang Romawi mengoperasikan suatu organisasi pelayanan kurir yang dinamakan cursus publicus.
Antara tahun 1305 sampai awal tahun 1800-an, perusahaan House of Taxis
telah meneylenggarakan suatu bentuk pelayanan kkilat berkuda di seluruh
Eropa. Pada tahun 1628, organisasi ini memperkerjakan 20.000 karyawan.
Para kurirnya berseragam biru dan perak menjelajahi seluruh Eropa dengan
membawa pesan antara para pangeran dan jenderal, saudagar dan peminjam
uang.[21]
Kantor
pos adalah saluran pertama yang terbuka lebar bagi komunikasi era
industri. Pada tahun 1837, kantor pos Inggris bukan saja membawa
berbagai pesan kaum elit, tetapi juga melayani 88 juta kiriman setahun,
suatu komunikasi yang luar biasa volumenya dalam ukuran waktu itu.
Pada
tahun 1960, ketika era industry mencapai puncaknya, jumlah itu mencapai
10 milyar kiriman. Pada tahun yang sama, kantor pos Amerika Serikat
mendistribusikan rata-rata 355 kiriman pos dalam negeri persetiap pria,
wanita, dan anak di negeri itu.[22]
F. Kemajuan Teknologi Komunikasi
Komunikasi
makin berkembang dengan ditemukannya mesin cetak di Cina pada abad
ke-10 yang mluas ke Jepang abad ke-12. Akhirnya komunikasi mulai dapat
menembus jarak dan waktu, terutama setelah Johannes Gutenberg menemukan
mesin cetak pada tahun 1440.
Perkembangan
komunikasi makin sempurna dengan adanya berbagai penemuan baru. Louis
Daguerre menemukan fotografi yang dapat mengabadikan rupa dan peristiwa
(1822). Samuel Morse menemukan telegrafi jarak jauh pertama (64 KM:
1844).
Thomas Alva Edison menemukan perekam bunyi (fonograf)
pertama, yang dapat mengabadikan komunikasi lisan secara praktikal
(1877). Alexander Graham Bell menemukan telpon yang dapat mempercepat
komunikasi pengganti suara yang sangat memakan waktu dan tenaga (1876).
Guglielmo
Marconi menemukan radio telegrafi (1898), disusul penemuan radio
teleponi oleh Reginald Fressenden(1900). Malam Natal tahun 1906,
Fressenden merintis siaran radio pertama di dunia.
Selanjutnya
Edison menemukan film bicara (1913). Televisi dirintis oleh Paul Nipkov
(1883). Sejak tahun 1935, televisi merupakan alat komunikasi mutakhir.
Sementara
itu teleks muncul di eropa awal tahun 30-an:jaringannya meluas setelah
Perang Dunia II, yang mempercepat penyampaian berita dalam media massa.
Setelah
itu ditemukannya kapal api oleh Robert Fulton (1807), kereta api oleh
George Stephenson (1825), serta pesawat terbang oleh dua bersaudara
Wilbur dan Orville Wright (1903), merupakan penyempurnaan teknologi
pengangkutan yang langsung mempengaruhi kelancaran komunikasi.[23]
Tahun-tahun
tersebut adalah tahapan di mana komunikasi terus mengalami kemajuan dan
penyempurnaan. Bahkan di masa sekarang kita mengenal yang namanya
internet, handphone, komputer, serta beragam teknologi komunikasi yang sudah menggunakan teknik digital.
G. Kesimpulan
Dengan
demikian dapat ditarik dua buah kesimpulan mengenai patokan
perkembangan komunikasi pada zaman sebelum masehi hingga zaman mulainya
tahun masehi.
Pada
tahun-tahun sebelum masehi, kemajuan proses komunikasi dimulai pada
saat ditentukannya seperangkat lambang dan simbol-simbol yang dapat
dipahami maknanya secara luas. Perkembangan selanjutnya adalah
ditemukannya sejumlah sarana untuk menulis maupun menggambarkan lambang
dan simbol-simbol tersebut. Meskipun pada akhirnya aksara atau huruf
ditemukan, namun lambang dan simbol-simbol berupa gambar-gambar lebih
dulu ditentukan sebagai pengganti suara dalam berkomunikasi.
Sedangkan
untuk periode modern, meskipun dasar penemuan mesin cetak ditemukan di
Cina pada abad ke-10, namun teknologi komunikasi baru dinyatakan
berkembang pada tahun 1440, yaitu tahun di mana mesin cetak yang lebih
efisien ditemukan oleh Johannes Gutenberg. Hal ini disebabkan karena
baru setelah mesin cetak hasil penemuan Gutenberg itulah industri
percetakan, yang juga tentunya merupakan industri komunikasi, pertama
kali mulai berkembang.
The
early development of writing, paper, and printing took place in the
Middle East and China. In 105 c.e. the Chinese began making paper from
rags, but it was not until 700 c.e. that Arab traders brought this new
technology to the West. Earlier, during the T’ang Dynasty in China
(618-906 c.e.), Chinese printers used wooden blocks to print characters,
than developed movable day type in 1000. The Koreans further refined
the printing process by developing movable metal type in 1234. However,
this inventions did not spawn a large printing industry. Printing did
not evolve further until the fifteenth century when Johannes Gutenberg
of Germany (re)discovered movable type and Europeans began to further
develop and exploit the printing press.[24]
DAFTAR PUSTAKA
Cangara, Hafied, Pengantar Ilmu Komunikasi, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta: 1998.
Effendy, Onong Uchana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2005.
Ensklopedi Indonesia, Edisi Khusus Suplemen, PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta: 1987.
……… Edisi Khusus, Jilid 4 KOM-OZO, PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta: 1987.
Keraf, Gorys, Diksi Dan Gaya Bahasa, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1994.
Nuruddin, Pengantar Komunikasi Massa, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2007.
Porter, E. Richard, Larry A. Samovar, Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2005.
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2002.
Straubhaar, Joseph, Robert LaRose, Media Now, Communications Media in the Information Age, Wadsworth Group, United States of America: 2002.
The World Book Encyclopedia, vol.2, Field Enterprises Educational Coorporation, Chicago: 1996.
Toffler, Alvin, Gelombang Ketiga, PT Pantja Simpati, Jakarta: 1990.
Yenne, Bill, 100 Peristiwa Yang Berpengaruh Di dalam sejarah Dunia, Karisma Publishing Group, Batam: 1993.
[1] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), h. 4.
[2] Bill Yenne, 100 Peristiwa Yang Berpengaruh Di dalam sejarah Dunia, (Batam: Karisma Publishing Group, 1993), h. 14.
[3] Nuruddin, Pengantar Komunikasi Massa, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 41.
[4] Ibid, h. 42-43.
[5] Ensklopedi Indonesia, Edisi Khusus Suplemen, (Jakarta: PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1987), h. 1845.
[6] Richard E. Porter, Larry A. Samovar, Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 12.
[7] Hafied Cangara, (Pengantar Ilmu Komunikasi), op.cit, h. 5.
[8] Bill Yenne, (100 Peristiwa Yang Berpengaruh Di Dalam Sejarah Dunia), op.cit, h. 14
[9] Ibid, h. 10.
[10] Nuruddin, (Pengantar Komunikasi Massa), op.cit, h. 49.
[11] Ibid, h. 45.
[12] Ibid, h. 53.
[13] The World Book Encyclopedia, vol.2, (Chicago: Field Enterprises Educational Coorporation, 1996), h. 313.
[14] Onong Uchana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), 53.
[15] Gorys Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994), h. 3.
[16] Ibid, h. 4-5.
[17] Onong Uchana Effendy, (Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek), op.cit, h. 54
[18] Ibid, h. 56.
[19] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002) h. 17.
[20] Ibid, h. 23.
[21] Alvin Toffler, Gelombang Ketiga, (Jakarta: PT Pantja Simpati, 1990), cet.ke-3, h. 54
[22] Ibid, h. 55.
[23] (Ensiklopedi Indonesia, Edisi Khusus, Jilid 4 KOM-OZO), op.cit, h. 1845.
[24] Joseph Straubhaar, Robert LaRose, Media Now, Communications Media in the Information Age, (United States of America, Wadsworth Group, 2002), h. 70.
The Next Colors of KMIK UBL
berdasarkan Musyawarah Besar Keluarga Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Mubes KMIK) Universitas Budi Luhur, kemarin (26/3), telah ditetapkan para ketua terpilih periode 2011-2012 ialah sebagai berikut:
1. Bayu Setiadi (Ketua BPM-F)
1. Bayu Setiadi (Ketua BPM-F)
2. Danang Sasongko (Ketua BEM-F)
3. Agum Prasetyo (Ketua HIMAKOM)
Proficiat! selamat berkarya dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab pada segenap civitas akademika Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur.
Senin, 22 November 2010
COMMUNICATION DAYS 2010
Communication Days 2010
"Out of The Box Communication: Express Your Creativity in a Fun Way with Communication Ethic"
Adalah suatu pembahasan yang mengajak kita untuk berfikir sesuatu yang berbeda dan membuat inovasi baru dalam dunia komunikasi.
Tema ini dipilih untuk memperlihatkan dunia komunikasi yang bisa kita ekspresikan lewat kreatifitas mulai dari gaya bicara, buku, film, gambar, bahkan budaya. tidak dipungkiri lagi bahwa inovasi dan pemikiran kreatif menjadi suatu keharusan, karena komunikasi selalu berkembang sesuai dengan zaman.
Oleh karena itu kita selenggarakan sebuah event yang menggabungkan keseluruhan unsur kreatifitas, edukasi dan hiburan dalam COMMUNICATION DAYS 2010.
HIMAKOM Univ. Budi Luhur present:COMMDAYS 2010"Out of The Box Communication"23 s/d 25 November 2010
A. SEMINAR
* P.R:
"Strategic Media Relatons for PR Practicioner"
pembicara:
- Iskandar Tumbuan (kepala media relations Bank Mandiri)
- Makroen Sanjaya (wakil pemred Metro TV)
- Ratu Maulia Ommaya (PR manager the Boddy Shop Indonesia)
* Visual Communication - Advertising:
"Creative and Effective Visual Communication"
pembicara:
- Michael Gumelar (praktisi DKV)
- Wahyu aditya (Founder of Hello Motion Academy)
* Broadcast Journalism:
"Behind The Scenes Creative TV Program"
penbicara:
- Prabu Revolusi (News anchor Metro TV)
- Herwin Krisbianto (Produser 'kabar plus-plus' TV ONE)
PRICE:
per seminar Rp. 20.000,-
paket (3xseminar) Rp. 50.000,-
B. BAZAR
Concept Magz, Loony store, HopHop, Xon Ce, dll
C. HIBURAN
Dancing ALAska, Buguyaga, Indo Beat Box, Sunday 69, KMM Univ.Budi Luhur, dll
D. Pemutaran Film dari Komunitas 2 Siang
E. Lomba Public Speaking dari Radio Budi Luhur
F. Pameran Foto
bukan sekedar hari biasa tetapi hari komunikasi
CP:
frisco: 085697826833
syarifah: 08568202658
bayu: 08989717422
Minggu, 07 November 2010
Bedah Film: "Alangkah Lucunya (Negri Ini)"
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 Oktober 2010. Himakom UBL mengadakan kegiatan bedah film. Tema kebangsaan dipilih guna membangkitkan semangat cinta bangsa dan patriotis di dalam diri mahasiswa, khususnya Fikom. Kali ini, divisi KPA (Kelompok Pengembangan Akademik) mengangkat film yang berjudul "Alangkah Lucunya (Negri Ini)".
peserta bedah film berasal dari mahasiswa Fikom yang mayoritas dari angkatan 2010, begitupula dengan panitia pelaksananya yang juga berasal dari partisipan Himakom 2010. sebagai narasumber yakni dosen Fikom, Ibu Denada Faraswacyen L. Gaol.
film 'sentilan' karya Dedy Mizwar ini bercerita tentang berbagai keanehan yang terjadi di negri Indonesia, diantaranya dilihat dari segi pendidikan, agama, dan peraturan hukum yang berlaku. beberapa keganjilan yang dikatakan 'lucu' itulah yang diangkat oleh sang sutradara menjadi sebuah judul. sehingga dengan demikian, menarik penasaran pubik akan cerita di dalam film tersebut.
secara garis besar, film ini memang sangat menarik yang dikemas dengan gaya unik dan tidak terasa monoton. alurnya pun membawa tidak mudah ditebak, namun mudah dicerna oleh penonton. yang menarik, klimaks di akhir film tersebut, dikembalikan sepenuhnya kepada penonton mengenai tafsiran salah satu peraturan hukum sebagai persepsi yang patut di cerna kembali. untuk mengetahui kisah lebih lengkapnya, silahkan menonton film ini, siapa tahu, kawan-kawan memiliki persepsi tersendiri mengenai film tersebut. jika belom pernah menonton, dapatkan filmnya disini.
secara garis besar, film ini memang sangat menarik yang dikemas dengan gaya unik dan tidak terasa monoton. alurnya pun membawa tidak mudah ditebak, namun mudah dicerna oleh penonton. yang menarik, klimaks di akhir film tersebut, dikembalikan sepenuhnya kepada penonton mengenai tafsiran salah satu peraturan hukum sebagai persepsi yang patut di cerna kembali. untuk mengetahui kisah lebih lengkapnya, silahkan menonton film ini, siapa tahu, kawan-kawan memiliki persepsi tersendiri mengenai film tersebut. jika belom pernah menonton, dapatkan filmnya disini.
secara keseluruhan, baik para peserta maupun panitia pelaksana bedah film terlihat antusias, dan berharap acara ini akan berlanjut di kemudian hari. semoga dengan adanya event ini, diharapkan mahasiswa Fikom Universitas Budi Luhur semakin maju dan cerdas dalam generasi yang berkompeten.
GO FIKOM!!! 

Senin, 20 September 2010
Pancasila dan Agama
MASALAH konflik antar atau atas nama agama di negara Indonesia bukanlah rahasia umum lagi, baik di dalam negeri kita sendiri maupun di luar negeri. Boleh dikatakan bahwa masalah konflik antaragama sudah setua usia kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena Pancasila sebagai simbol kekuatan bangsa yang seharusnya memberikan ruang gerak bagi setiap agama untuk mengembangkan teologi dan ajaran-ajarannya, menciptakan hubungan inter-subjektif yang dialogis dan manusiawi dalam semangat persatuan, membangun kedaulatan rakyat yang demokratis menuju keadilan yang sesungguhnya, justru masuk ke dalam lubang hitam kekuatan politik kelompok tertentu untuk mengamankan status quo kekuasaan kelompoknya.
Dengan kata lain, nilai-nilai luhur Pancasila yang menjadi keutamaan moral dalam hubungan dan kerja sama antarumat agama sebagaimana tertuang dalam kelima sila Pancasila justru hanya menjadi ritual politik teoritis belaka. Perdebatan mengenai bentuk negara yang hendak diciptakan theokrasi atau sekuler di bumi pertiwi Indonesia telah melahirkan konflik kemanusiaan yang menindas dan menghakimi makna toleransi antarumat beragama. Hancurnya semangat toleransi antarumat beragama yang dipicu egoisme kelompok tertentu dan kaburnya nilai-nilai moral Pancasila yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini, memunculkan beberapa pertanyaan dalam benak kita. ”Bagaimana semangat pengakuan agama dan negara terhadap seluruh agama dan keyakinan di bangsa kita? Sejauh mana relevansi Pancasila bagi keberagaman agama? Apa sumbangan agama dalam kehidupan komunitas yang plural dan masyarakat Pancasila? (Seminar ”Indonesia Beragama dalam Pancasila”, Fakultas Teologi-Universitas SanataDharma, 11 November 2006).
***
Semua agama memiliki ajaran-ajaran yang menjadi patokan norma dan keutamaan-keutamaan moral bagi setiap penganutnya. Setiap agama mengajarkan kebaikan dan keadilan yang patut dijalankan oleh setiap anggotanya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jika dikaji lebih dalam, semua ajaran dari setiap agama sebenarnya terangkum jelas dan tegas dalam kelima sila Pancasila. Maka menurut hemat saya, antara Pancasila dan agama secara tidak langsung terdapat sebuah hubungan teologis-dogmatis yang mesti diterjemahkan dalam praksis hubungan antaragama. Umat beragama semakin Pancasilais dan Pancasila semakin ”dimuliakan” jika kelima silanya tidak hanya dimuliakan dalam kata-kata belaka melainkan diaktualisasikan dalam perbuatan konkret yaitu hubungan antaragama dalam kerangka menyelamatkan bangsa dari konflik antarumat beragama.
Keberadaan Pancasila yang memuat kelima sila, semakin menegaskan dan memberi ruang gerak kepada setiap agama untuk mengaktualisasikan ajaran-ajarannya dalam tindakan konkret. Artinya Pancasila tidak hanya dijadikan retorika politik yang semakin memperkokoh kekuatan status quo kelompok atau agama tertentu melainkan menjadi inspirator agama-agama untuk membangun dialog dalam semangat saling menjaga, dan menghormati satu sama lain serta ’semangat perbedaan dalam persaudaraan sekaligus bersaudara dalam perbedaan’ (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Ketika Pancasila hanya dijadikan sebagai ritual politik belaka tanpa diterjemahkan dalam praksis kehidupan beragama maka pada saat itu juga agama tersebut menorehkan sikap anti Pancasila, karena agama tanpa keadilan adalah sesuatu yang non-sense, (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Paul Ricoeur, seorang Filsuf sosial berkebangsaan Prancis, mengatakan bahwa problematika untuk menegaskan gerak bersama dalam proses mencapai keadilan adalah masalah presentasi, teks, dan action. Menurut Ricoeur presentasi dan teks dalam hal ini Pancasila senantiasa menjadi aksi atau tindakan refigurasi/transfigurasi dalam konteks, sehingga menjadi sebuah kisah yang membebaskan menuju dialog kontruktif dalam hubungan antaragama. Menghidupi Pancasila sebagai dasar gerak langkah bersama baik di kalangan umat beragama yang diakui maupun non-agama dalam kerangka menyelamatkan bangsa Indonesia dari keterpurukan moral, dibutuhkan kesadaran dan semangat penerimaan dari semua komponen agama sebagai kekuatan menerjemahkan kemanusiaan yang semakin manusiawi dalam semangat persatuan dan kedaulatan rakyat yang semakin adil. Jika tidak, Pancasila sendiri akan terus mengalami tragedi demi tragedi yang dikhianati dalam konflik dan tindakan anarkis antarumat beragama.
Penulis mahasiswa Program Profesi Imamat, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (Pancasila dan agama
MASALAH konflik antar atau atas nama agama di negara Indonesia bukanlah rahasia umum lagi, baik di dalam negeri kita sendiri maupun di luar negeri. Boleh dikatakan bahwa masalah konflik antaragama sudah setua usia kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena Pancasila sebagai simbol kekuatan bangsa yang seharusnya memberikan ruang gerak bagi setiap agama untuk mengembangkan teologi dan ajaran-ajarannya, menciptakan hubungan inter-subjektif yang dialogis dan manusiawi dalam semangat persatuan, membangun kedaulatan rakyat yang demokratis menuju keadilan yang sesungguhnya, justru masuk ke dalam lubang hitam kekuatan politik kelompok tertentu untuk mengamankan status quo kekuasaan kelompoknya.
Dengan kata lain, nilai-nilai luhur Pancasila yang menjadi keutamaan moral dalam hubungan dan kerja sama antarumat agama sebagaimana tertuang dalam kelima sila Pancasila justru hanya menjadi ritual politik teoritis belaka. Perdebatan mengenai bentuk negara yang hendak diciptakan theokrasi atau sekuler di bumi pertiwi Indonesia telah melahirkan konflik kemanusiaan yang menindas dan menghakimi makna toleransi antarumat beragama. Hancurnya semangat toleransi antarumat beragama yang dipicu egoisme kelompok tertentu dan kaburnya nilai-nilai moral Pancasila yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini, memunculkan beberapa pertanyaan dalam benak kita. ”Bagaimana semangat pengakuan agama dan negara terhadap seluruh agama dan keyakinan di bangsa kita? Sejauh mana relevansi Pancasila bagi keberagaman agama? Apa sumbangan agama dalam kehidupan komunitas yang plural dan masyarakat Pancasila? (Seminar ”Indonesia Beragama dalam Pancasila”, Fakultas Teologi-Universitas SanataDharma, 11 November 2006).
***
Semua agama memiliki ajaran-ajaran yang menjadi patokan norma dan keutamaan-keutamaan moral bagi setiap penganutnya. Setiap agama mengajarkan kebaikan dan keadilan yang patut dijalankan oleh setiap anggotanya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jika dikaji lebih dalam, semua ajaran dari setiap agama sebenarnya terangkum jelas dan tegas dalam kelima sila Pancasila. Maka menurut hemat saya, antara Pancasila dan agama secara tidak langsung terdapat sebuah hubungan teologis-dogmatis yang mesti diterjemahkan dalam praksis hubungan antaragama. Umat beragama semakin Pancasilais dan Pancasila semakin ”dimuliakan” jika kelima silanya tidak hanya dimuliakan dalam kata-kata belaka melainkan diaktualisasikan dalam perbuatan konkret yaitu hubungan antaragama dalam kerangka menyelamatkan bangsa dari konflik antarumat beragama.
Keberadaan Pancasila yang memuat kelima sila, semakin menegaskan dan memberi ruang gerak kepada setiap agama untuk mengaktualisasikan ajaran-ajarannya dalam tindakan konkret. Artinya Pancasila tidak hanya dijadikan retorika politik yang semakin memperkokoh kekuatan status quo kelompok atau agama tertentu melainkan menjadi inspirator agama-agama untuk membangun dialog dalam semangat saling menjaga, dan menghormati satu sama lain serta ’semangat perbedaan dalam persaudaraan sekaligus bersaudara dalam perbedaan’ (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Ketika Pancasila hanya dijadikan sebagai ritual politik belaka tanpa diterjemahkan dalam praksis kehidupan beragama maka pada saat itu juga agama tersebut menorehkan sikap anti Pancasila, karena agama tanpa keadilan adalah sesuatu yang non-sense, (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Paul Ricoeur, seorang Filsuf sosial berkebangsaan Prancis, mengatakan bahwa problematika untuk menegaskan gerak bersama dalam proses mencapai keadilan adalah masalah presentasi, teks, dan action. Menurut Ricoeur presentasi dan teks dalam hal ini Pancasila senantiasa menjadi aksi atau tindakan refigurasi/transfigurasi dalam konteks, sehingga menjadi sebuah kisah yang membebaskan menuju dialog kontruktif dalam hubungan antaragama. Menghidupi Pancasila sebagai dasar gerak langkah bersama baik di kalangan umat beragama yang diakui maupun non-agama dalam kerangka menyelamatkan bangsa Indonesia dari keterpurukan moral, dibutuhkan kesadaran dan semangat penerimaan dari semua komponen agama sebagai kekuatan menerjemahkan kemanusiaan yang semakin manusiawi dalam semangat persatuan dan kedaulatan rakyat yang semakin adil. Jika tidak, Pancasila sendiri akan terus mengalami tragedi demi tragedi yang dikhianati dalam konflik dan tindakan anarkis antarumat beragama.
Keberadaan Pancasila yang memuat kelima sila, semakin menegaskan dan memberi ruang gerak kepada setiap agama untuk mengaktualisasikan ajaran-ajarannya dalam tindakan konkret. Artinya Pancasila tidak hanya dijadikan retorika politik yang semakin memperkokoh kekuatan status quo kelompok atau agama tertentu melainkan menjadi inspirator agama-agama untuk membangun dialog dalam semangat saling menjaga, dan menghormati satu sama lain serta ’semangat perbedaan dalam persaudaraan sekaligus bersaudara dalam perbedaan’ (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Ketika Pancasila hanya dijadikan sebagai ritual politik belaka tanpa diterjemahkan dalam praksis kehidupan beragama maka pada saat itu juga agama tersebut menorehkan sikap anti Pancasila, karena agama tanpa keadilan adalah sesuatu yang non-sense, (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Paul Ricoeur, seorang Filsuf sosial berkebangsaan Prancis, mengatakan bahwa problematika untuk menegaskan gerak bersama dalam proses mencapai keadilan adalah masalah presentasi, teks, dan action. Menurut Ricoeur presentasi dan teks dalam hal ini Pancasila senantiasa menjadi aksi atau tindakan refigurasi/transfigurasi dalam konteks, sehingga menjadi sebuah kisah yang membebaskan menuju dialog kontruktif dalam hubungan antaragama. Menghidupi Pancasila sebagai dasar gerak langkah bersama baik di kalangan umat beragama yang diakui maupun non-agama dalam kerangka menyelamatkan bangsa Indonesia dari keterpurukan moral, dibutuhkan kesadaran dan semangat penerimaan dari semua komponen agama sebagai kekuatan menerjemahkan kemanusiaan yang semakin manusiawi dalam semangat persatuan dan kedaulatan rakyat yang semakin adil. Jika tidak, Pancasila sendiri akan terus mengalami tragedi demi tragedi yang dikhianati dalam konflik dan tindakan anarkis antarumat beragama.
Penulis mahasiswa Program Profesi Imamat, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (Pancasila dan agama
MASALAH konflik antar atau atas nama agama di negara Indonesia bukanlah rahasia umum lagi, baik di dalam negeri kita sendiri maupun di luar negeri. Boleh dikatakan bahwa masalah konflik antaragama sudah setua usia kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini terjadi karena Pancasila sebagai simbol kekuatan bangsa yang seharusnya memberikan ruang gerak bagi setiap agama untuk mengembangkan teologi dan ajaran-ajarannya, menciptakan hubungan inter-subjektif yang dialogis dan manusiawi dalam semangat persatuan, membangun kedaulatan rakyat yang demokratis menuju keadilan yang sesungguhnya, justru masuk ke dalam lubang hitam kekuatan politik kelompok tertentu untuk mengamankan status quo kekuasaan kelompoknya.
Dengan kata lain, nilai-nilai luhur Pancasila yang menjadi keutamaan moral dalam hubungan dan kerja sama antarumat agama sebagaimana tertuang dalam kelima sila Pancasila justru hanya menjadi ritual politik teoritis belaka. Perdebatan mengenai bentuk negara yang hendak diciptakan theokrasi atau sekuler di bumi pertiwi Indonesia telah melahirkan konflik kemanusiaan yang menindas dan menghakimi makna toleransi antarumat beragama. Hancurnya semangat toleransi antarumat beragama yang dipicu egoisme kelompok tertentu dan kaburnya nilai-nilai moral Pancasila yang terjadi di bangsa kita akhir-akhir ini, memunculkan beberapa pertanyaan dalam benak kita. ”Bagaimana semangat pengakuan agama dan negara terhadap seluruh agama dan keyakinan di bangsa kita? Sejauh mana relevansi Pancasila bagi keberagaman agama? Apa sumbangan agama dalam kehidupan komunitas yang plural dan masyarakat Pancasila? (Seminar ”Indonesia Beragama dalam Pancasila”, Fakultas Teologi-Universitas SanataDharma, 11 November 2006).
***
Semua agama memiliki ajaran-ajaran yang menjadi patokan norma dan keutamaan-keutamaan moral bagi setiap penganutnya. Setiap agama mengajarkan kebaikan dan keadilan yang patut dijalankan oleh setiap anggotanya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jika dikaji lebih dalam, semua ajaran dari setiap agama sebenarnya terangkum jelas dan tegas dalam kelima sila Pancasila. Maka menurut hemat saya, antara Pancasila dan agama secara tidak langsung terdapat sebuah hubungan teologis-dogmatis yang mesti diterjemahkan dalam praksis hubungan antaragama. Umat beragama semakin Pancasilais dan Pancasila semakin ”dimuliakan” jika kelima silanya tidak hanya dimuliakan dalam kata-kata belaka melainkan diaktualisasikan dalam perbuatan konkret yaitu hubungan antaragama dalam kerangka menyelamatkan bangsa dari konflik antarumat beragama.
Keberadaan Pancasila yang memuat kelima sila, semakin menegaskan dan memberi ruang gerak kepada setiap agama untuk mengaktualisasikan ajaran-ajarannya dalam tindakan konkret. Artinya Pancasila tidak hanya dijadikan retorika politik yang semakin memperkokoh kekuatan status quo kelompok atau agama tertentu melainkan menjadi inspirator agama-agama untuk membangun dialog dalam semangat saling menjaga, dan menghormati satu sama lain serta ’semangat perbedaan dalam persaudaraan sekaligus bersaudara dalam perbedaan’ (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Ketika Pancasila hanya dijadikan sebagai ritual politik belaka tanpa diterjemahkan dalam praksis kehidupan beragama maka pada saat itu juga agama tersebut menorehkan sikap anti Pancasila, karena agama tanpa keadilan adalah sesuatu yang non-sense, (Prof. Dr. Syafii Ma’arif, Fakultas Teologi, 11 November 2006).
Paul Ricoeur, seorang Filsuf sosial berkebangsaan Prancis, mengatakan bahwa problematika untuk menegaskan gerak bersama dalam proses mencapai keadilan adalah masalah presentasi, teks, dan action. Menurut Ricoeur presentasi dan teks dalam hal ini Pancasila senantiasa menjadi aksi atau tindakan refigurasi/transfigurasi dalam konteks, sehingga menjadi sebuah kisah yang membebaskan menuju dialog kontruktif dalam hubungan antaragama. Menghidupi Pancasila sebagai dasar gerak langkah bersama baik di kalangan umat beragama yang diakui maupun non-agama dalam kerangka menyelamatkan bangsa Indonesia dari keterpurukan moral, dibutuhkan kesadaran dan semangat penerimaan dari semua komponen agama sebagai kekuatan menerjemahkan kemanusiaan yang semakin manusiawi dalam semangat persatuan dan kedaulatan rakyat yang semakin adil. Jika tidak, Pancasila sendiri akan terus mengalami tragedi demi tragedi yang dikhianati dalam konflik dan tindakan anarkis antarumat beragama.
oleh : Yohanes Kopong Tuan
Penulis mahasiswa Program Profesi Imamat, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.Pancasila dan agama
Sumber:
![]() |
Rabu, 25 Agustus 2010
Kesalahan/kerancuan dalam berpikir
secara harafiah, berpikir itu sendiri, dalam artian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. dari situ jelas diungkapkan bahwasanya dalam berpikir tak lepas dari perannya 'akal budi' dalam proesnya. namun, akal itu pada kenyataan, seringkali membawa manusia terjebak dalam kesalahan atau kerancuan pada pemikirannya.
kita sebagai mahasiswa, yang diklaim sebagai kaum intelektual, sudah sepantasnya untuk dituntut dalam pemikiran menuju arah yang lebih baik dengan bertransformasi melalui ide-ide dalam diri kita. oleh karena itu, untuk mencapai hal tersebut harus menghindari berbagai gejala kerancuan yang menyebabkan kegagalan dalam jalan pemikiran kita.
menurut Jalaludin Rachmat, ada 7 macam dalam kesalahan berpikir atau kerancuan berpikir, yaitu:
1. Fallacy of Dramatical Instance
2. Fallacy of Retrospective Determinism
3. Post Hoc Ergo Propter Hoc
4. Fallacy Of Misplaced Concretness
5. Argumentum Ad Verecundiam
6. Fallacy Of Composition
7. Circular Reasoning
by: Anis Rosyadi
(Sumber : Kamus Populer, Kamus Bahasa Inggris, Kamus Bahasa Latin, Rekayasa Sosial - Jalaluddin Rakhmat, Logika - Mundiri)
kita sebagai mahasiswa, yang diklaim sebagai kaum intelektual, sudah sepantasnya untuk dituntut dalam pemikiran menuju arah yang lebih baik dengan bertransformasi melalui ide-ide dalam diri kita. oleh karena itu, untuk mencapai hal tersebut harus menghindari berbagai gejala kerancuan yang menyebabkan kegagalan dalam jalan pemikiran kita.
menurut Jalaludin Rachmat, ada 7 macam dalam kesalahan berpikir atau kerancuan berpikir, yaitu:
1. Fallacy of Dramatical Instance
kesalahan berpikir ini berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan over-generalitation, yaitu penggunaan satu atau dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum. kerancuan semacam ini sangat banyak di temui di masyarakat, dan biasanya over generalized di ambil dari satu kasus atau dua kasus sebagai rujukan yang diambil dari pengalaman pribadi seseorang. contoh yang sangat konkrit yang terjadi: "wanita itu di sakiti oleh pria sebanyak 3 kali dalam hidupnya, lalu di berkesimpulan bahwa semua laki2 itu brengsek", itulah contoh konkrit yang sering di temui dari fallacy of Dramatical Instance.
2. Fallacy of Retrospective Determinism
Istilah panjang ini sebenarnya untuk menjelaskan kebiasaan orang yang menganggap masalah yang ada yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. misalnya: "mengapa pelacuran itu harus dibasmi?, karena sepanjang sejarah pelacuran, mereka tetap ada, dan tidak bisa dibasmi, oleh karena itu yang harus kita lakukan merelokasikan agar tidak ada dampak2 yang tidak diinginkan."singkatnya Determinisme retrospektif adalah upaya kembali pada sesuatu yang seolah - olah sudah ditentukan oleh sejarah.
3. Post Hoc Ergo Propter Hoc
istilah ini berasal dari bahasa latin, Post = sesudah, Hoc = Demikian, Ergo = karena itu, Propter = disebabkan Hoc = demikian. intinya: sesudah itu - karena itu - oleh sebab itu. Memang sulit apabila diterjemahkan secara terminologis, tetapi kata2yang panjang dan sulit dipahami ini intinya bahwa akibat yang dihasilkan tidak sesuai dengan sebabnya, akan tetapi dipercaya bahwa penyebabnya tidak sesuai itu. contoh konkritnya: "orang tua lebih menyayangi seorang anak dibandingkan anak lainnya hanya karena orangtua itu naik pangkat, keadaan ekonominya yang baik setelah mempunyai anak kesayangannya itu. dulu orang tua ini sengsara dan yang kena getah anak pertamanya dan berkata "anak pertama ini membawa sial, zaman anak ini kami sengsara, nah anak yang bungsu ini yang membawa keberuntungan.
4. Fallacy Of Misplaced Concretness
intinya, kerancuan ini adalah mengkonkritkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak, misalnya: "mengapa Negara A miskin? karena sudah menjadi takdirnya negara A miskin, Takdir merupakan sesuatu yang abstrak, jika jawabannya seperti itu maka Negara A tidak bisa dirubahlagi menjadi negara yang sejahtera.
5. Argumentum Ad Verecundiam
intinya, Berargumen dengan menggunakan Otoritas, padahal otoritas itu sendiri tidak relevan dan ambigu, otoritas itu sesuatu yang sudah diterima kebenarannya secara mutlak.
6. Fallacy Of Composition
misalnya, dikampung saya, ada orang yang membudidayakan jamur, sehingga menjadi perusahaan besar dan mendatangkan uang yang banyak pada orang tersebut. lalu melihat itu, seluruh penduduk menjual kebunnya untuk dijadikan modal berbisnis jamur. akibatnya semua penduduk kampung saya bangkrut karena merosotnya permintaan dan membludaknya pasokan barang. singkatnya, terapi yang berhasil untuk satu orang dianggap berhasil untuk semua orang, inilah Fallacy of composittion.
7. Circular Reasoning
pemikiran yang berputar - putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju kesimpulan semua, hal ini sangat sering ditemui. ketika saya berdiskusi dengan teman saya, teman saya mengemukakan hipotesis: "apabila organisasi dikembangkan denganbaik maka program transmigrasi akan berjalan lancar." saya tanya: "apa buktinya organisasi itu berjalan lancar?" ia jawab: "kalau programnya berjalan lancar". saya tanya lagi: "Program lancar, artinya?" ia menjawab: "artinya pengembangan organisasinya baik." inilah contoh circular reasoning, ini sama saja membuat hipotesis, "apabila seorang manusia laki laki, maka dia pasti pria".
by: Anis Rosyadi
(Sumber : Kamus Populer, Kamus Bahasa Inggris, Kamus Bahasa Latin, Rekayasa Sosial - Jalaluddin Rakhmat, Logika - Mundiri)
Rabu, 18 Agustus 2010
Merdeka belum Merdesa.
Merdeka selama 65 tahun, tetapi belum Merdesa.cuplikan tersebut adalah salah satu pidato yang disampaikan oleh Pandji Pragiwaksono, saat peringatan hari kemerdekaan kemarin dalam sebuah situs platform upacara bendera virtual, Ya, dunia teknologi dan multimedia telah menembus batas logika hingga upacara bendera pun kini dapat dilaksanakan secara virtual. penasaran? silahkan klik disini.
Ini salah satu masalah kita. Yang menjadikan kita susah untuk benar-benar bangkit.
Kita punya mental majikan.
Perhatikan aja rumah para "middle class" Indonesia, rata rata sudah punya pembantu.
pengaruhnya apa?
pengaruh tersebut menjadikan kita terbiasa untuk menyuruh memberesin rumah kalau liat rumah kita berantakan, atau kalau ingin sesuatu. Padahal yg berantakin kemungkinan kita sendiri
Dan padahal bikin kopi juga bisa sendiri.
Dengan alasan "Kan gue gaji untuk bantu bantu?" mereka memilih untuk duduk tenang sambil nonton TV sambil nunjuk2 "Beresin itu dong, ambilin air es dong"
Padahal, kalau hal hal seperti itu kita bisa lakukan sendiri, pembantu jadi lebih fokus tenaganya untuk melakukan hal hal lain yang mungkin "lebih males" untuk kita lakukan seperti nyuci baju dan setrika atau entahlah apa.
Sama keadaannya dengan para pemuda Indonesia Dengan alasan "Pemerintah dan DPR kan digaji pake uang pajak dari gue.." akhirnya pemuda lebih seneng nyuruh-nyuruh Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, menurunkan biaya sekolah biar yang tidak mampu bisa sekolah, memberikan fasilitas kesehatan berkualitas dan gratis untuk masyarakat yang tidak mampu. Padahal, kita bisa lakukan sendiri.
Mereka juga melakukan perubahan, KITA juga.
Ada 2 jenis pemuda di dunia. Mereka yang menuntut perubahan, dan menciptakan perubahan. Dua duanya harus ada. Nah sekarang, liat lingkungan kalian. Sudahkah ada keduanya? Kalau belum, maka ada yang salah dengan lingkungan tersebut.
Salah, karena kalau pemuda cuma bisa menuntut doang, itu pertanda bahwa mereka punya mental majikan. Kalau ditanya, apa masalah terbesar di Indonesia, umumnya menjawab kemiskinan dan korupsi.
Kalau memang kemiskinan adalah masalah kita, mengapa anda tidak pernah melakukan apa apa untuk menghapus kemiskinan?
Apa yang pernah anda lakukan untuk menurunkan 8 poin Millenium Development Goals? Taukah anda apa itu MDG? Mungkin usaha menurunkan angka kemiskinan bisa dimulai dari situ.
Lalu taukah kenapa korupsi merajalela?
Salah satunya adalah karena kita biarkan mereka terjadi dengan ketidak pedulian kita terhadap politik. Kita dengan acuh berkata bahwa kita benci politik. Karena politik itu busuk.
Apa hasilnya?
Kebencian kita terhadap politik membuat kita tidak peduli, tidak mengerti dan tidak tahu. Padahal pada Pemilu kita berbondong bondong untuk nyontreng, tidak dilengkapi dengan pemahaman politik yang benar. Korupsi dilakukan oleh orang orang tidak benar yang duduk di jabatan yg memungkinkan untuk korupsi. Jangan biarkan mereka duduk disana.
Pilihlah pemimpin kita dengan benar. Berpolitiklah.
Gunakan kekuatan kita. Gunakan suara kita. Gunakan dengan baik dan benar dan bijak.
Negara kita masih muda, jangan berkelakuan seakan mengubah Indonesia sudah terlambat. karena Indonesia, akan ada untuk selamanya. Merdeka.
Source from: http://www.indonesiaoptimis.org/
Aktivis gerakan #Indonesiaunite tersebut ingin mengajak kaum muda untuk bangkit dan mencintai bangsa ini layaknya generasi penerus bangsa yang bermartabat. Dalam pidatonya, beliau mengungkapkan bahwa ada dua jenis pemuda di dunia ini, pemuda yang menuntut perubahan dan menciptakan perubahan. "Pemuda dengan mental majikan, hanya menuntut perubahan tanpa melakukan apa-apa untuk bangsa ini," ungkap Pandji yang juga pencetus gerakan 'Provocative-Proactive' tersebut.
Tanpa sadar, ungkapan Pandji tersebut mengena untuk kita selaku generasi muda. Yang kita lakukan hanyalah menuntut dan menyalahkan pemerintah. Sementara, kita sendiri? apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini? inilah tugas generasi muda, inilah tanggung jawab kita. Layaknya sebuah ungkapan populer yang mengatakan: "Jangan KAU tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah AKU berikan kepada negara dan bangsa ini."
by: Christophorus Bayu Kurniawan














