SELAMAT HARI RAYA NATAL 2011

"Damai di Bumi, Damai di Hati"

BEM FIKOM 2011/2012

Taat dan setia pada Tri Dharma Perguruan Tinggi

LDK Fikom

Latihan Dasar Kepemimpinan, sebuah proses awal dari langkah sang pemimpin.

LDK Fikom

Setiap individu tercipta sebagai seorang pemimpin.

Makrab Fikom

Satu dalam kebersamaan insan komunikasi

Makrab Fikom

Senyum Fikomers 2010.

Makrab Fikom

Life is a games

Communication Days 2010

Peserta Commdays 2010

Communication Days 2010

Praktisi PR: Makroen Sanjaya (Metro TV), Iskandar Tumbuan (Mandiri Bank), Ratu Maulia Ommaya (The Bodyshop Indonesia) bersama Ibu Nawiroh Vera dan Beryl Masdiary.

Communication Days 2010

Michael Gumelar (praktisi DKV), Wahyu Aditya (Animator), bersama Ibu Riyodina (dosen) dan Ibu Liza Dwi Ratna Dewi (Dekan FIKOM).

Communication Days 2010

Atmadji Sumarkidjo (Wartawan Senior), Herwin Krisbianto (Produser TV One), Medya Apriliansyah (dosen), dan Prabu Revolusi (News Anchor Metro TV).

Communication Days 2010

Organizer Communication Days 2010

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

Indonesia Mengajar: Jadilah Pengajar Muda III



Melalui Indonesia Mengajar, kita mengajak putra-putri terbaik di republik ini, generasi baru yang terdidik, berprestasi dan memiliki semangat juang untuk menjadi Guru SD selama 1 tahun di pelosok Indonesia.

Indonesia Mengajar adalah sebuah ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia Mengajar tidak berpretensi untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia. Indonesia Mengajar meyakini bahwa hadirnya putra-putri terbaik Indonesia sebagai guru mendorong peningkatan kualitas pendidikan kita.

Indonesia Mengajar yakin bahwa pendidikan adalah sebuah gerakan. Pendidikan bukan sekedar program yang dijalankan pemerintah, sekolah dan para guru. Pendidikan adalah gerakan mencerdaskan bangsa yang harus melibatkan semua orang. Ini semua didasarkan pada keyakinan kita bahwa mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Indonesia Mengajar menempatkan sarjana-sarjana terbaik di pelosok negeri. Kehadiran mereka disana untuk mengajar, mendidik, menginspirasi dan menjadi jembatan bagi masyarakat desa-desa dengan pusat-pusat kemajuan. Di pelosok negeri itu, para Pengajar Muda akan memiliki kawan baru, rumah baru, dan keluarga baru. Desa-desa itu akan selalu menjadi bagian dari diri mereka. Begitu juga sebaliknya, para Pengajar Muda itu akan meninggalkan ilmu, inspirasi dan kenangan di masyarakat desa di pelosok negeri. Tanda pahala para Pengajar Muda itu akan membekas di setiap prestasi anak-anak dan di setiap kemajuan di desa-desa. Indonesia Mengajar yakin bahwa itu semua adalah rajutan erat yang akan menguatkan tenun kebangsaan kita.

Indonesia Mengajar yakin bahwa "Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi"
- Anies Baswedan -
  
Mulailah cerita besar-mu dari langkah kecil pertama-mu...
Jadilah Pengajar Muda angkatan berikutnya!

Apakah Anda generasi muda terbaik bangsa ini? 
Indonesia Mengajar mengundang Anda menjadi Calon Pengajar Muda angkatan III. Pendaftaran berlangsung pada 20 April - 31 Mei 2011 secara online. Mau tahu syaratnya?
  • Sarjana (Min. S1)
  • Fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu
  • WNI dan belum menikah
  • Diutamakan berusia tidak lebih dari 25 tahun
  • Diutamakan IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0
  • Berprestasi (di dalam ataupun di luar kampus)
  • Mengedepankan jiwa kepemimpinan yang ditunjukkan dengan pengalaman berorganisasi
  • Mengedepankan kepedulian sosial dan semangat pengabdian
  • Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya belajar-mengajar
  • Menghargai dan berempati terhadap orang lain
  • Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving
  • Memiliki hobi atau ketrampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat
  • Sehat secara fisik dan mental
  • Bersedia ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun

ayo Fikomers... 
apakah diantara anda merasa memenuhi persyaratan di atas?
Segera daftarkan diri Anda di sini!

Rabu, 18 Agustus 2010

Merdeka belum Merdesa.

Merdeka selama 65 tahun, tetapi belum Merdesa.
Ini salah satu masalah kita. Yang menjadikan kita susah untuk benar-benar bangkit.
Kita punya mental majikan.
Perhatikan aja rumah para "middle class" Indonesia, rata rata sudah punya pembantu.

pengaruhnya apa?

pengaruh tersebut menjadikan kita terbiasa untuk menyuruh memberesin rumah kalau liat rumah kita berantakan, atau kalau ingin sesuatu. Padahal yg berantakin kemungkinan kita sendiri
Dan padahal bikin kopi juga bisa sendiri.
Dengan alasan "Kan gue gaji untuk bantu bantu?" mereka memilih untuk duduk tenang sambil nonton TV sambil nunjuk2 "Beresin itu dong, ambilin air es dong"

Padahal, kalau hal hal seperti itu kita bisa lakukan sendiri, pembantu jadi lebih fokus tenaganya untuk melakukan hal hal lain yang mungkin "lebih males" untuk kita lakukan seperti nyuci baju dan setrika atau entahlah apa.

Sama keadaannya dengan para pemuda Indonesia Dengan alasan "Pemerintah dan DPR kan digaji pake uang pajak dari gue.." akhirnya pemuda lebih seneng nyuruh-nyuruh Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, menurunkan biaya sekolah biar yang tidak mampu bisa sekolah, memberikan fasilitas kesehatan berkualitas dan gratis untuk masyarakat yang tidak mampu. Padahal, kita bisa lakukan sendiri.
Mereka juga melakukan perubahan, KITA juga.

Ada 2 jenis pemuda di dunia. Mereka yang menuntut perubahan, dan menciptakan perubahan. Dua duanya harus ada. Nah sekarang, liat lingkungan kalian. Sudahkah ada keduanya? Kalau belum, maka ada yang salah dengan lingkungan tersebut.
Salah, karena kalau pemuda cuma bisa menuntut doang, itu pertanda bahwa mereka punya mental majikan. Kalau ditanya, apa masalah terbesar di Indonesia, umumnya menjawab kemiskinan dan korupsi.
Kalau memang kemiskinan adalah masalah kita, mengapa anda tidak pernah melakukan apa apa untuk menghapus kemiskinan?

Apa yang pernah anda lakukan untuk menurunkan 8 poin Millenium Development Goals? Taukah anda apa itu MDG? Mungkin usaha menurunkan angka kemiskinan bisa dimulai dari situ.
Lalu taukah kenapa korupsi merajalela?
Salah satunya adalah karena kita biarkan mereka terjadi dengan ketidak pedulian kita terhadap politik. Kita dengan acuh berkata bahwa kita benci politik. Karena politik itu busuk.

Apa hasilnya?

Kebencian kita terhadap politik membuat kita tidak peduli, tidak mengerti dan tidak tahu. Padahal pada Pemilu kita berbondong bondong untuk nyontreng, tidak dilengkapi dengan pemahaman politik yang benar. Korupsi dilakukan oleh orang orang tidak benar yang duduk di jabatan yg memungkinkan untuk korupsi. Jangan biarkan mereka duduk disana.
Pilihlah pemimpin kita dengan benar. Berpolitiklah.
Gunakan kekuatan kita. Gunakan suara kita. Gunakan dengan baik dan benar dan bijak.
Negara kita masih muda, jangan berkelakuan seakan mengubah Indonesia sudah terlambat. karena Indonesia, akan ada untuk selamanya. Merdeka.

Source from: http://www.indonesiaoptimis.org/
cuplikan tersebut adalah salah satu pidato yang disampaikan oleh Pandji Pragiwaksono, saat peringatan hari kemerdekaan kemarin dalam sebuah situs platform upacara bendera virtual, Ya, dunia teknologi dan multimedia telah menembus batas logika hingga upacara bendera pun kini dapat dilaksanakan secara virtual. penasaran? silahkan klik disini. 

Aktivis gerakan #Indonesiaunite tersebut ingin mengajak kaum muda untuk bangkit dan mencintai bangsa ini layaknya generasi penerus bangsa yang bermartabat. Dalam pidatonya, beliau mengungkapkan bahwa ada dua jenis pemuda di dunia ini, pemuda yang menuntut perubahan dan menciptakan perubahan. "Pemuda dengan mental majikan, hanya menuntut perubahan tanpa melakukan apa-apa untuk bangsa ini," ungkap Pandji yang juga pencetus gerakan 'Provocative-Proactive' tersebut.

Tanpa sadar, ungkapan Pandji tersebut mengena untuk kita selaku generasi muda. Yang kita lakukan hanyalah menuntut dan menyalahkan pemerintah. Sementara, kita sendiri? apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini? inilah tugas generasi muda, inilah tanggung jawab kita. Layaknya sebuah ungkapan populer yang mengatakan: "Jangan KAU tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah AKU berikan kepada negara dan bangsa ini."

by: Christophorus Bayu Kurniawan

blog-indonesia.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More