SELAMAT HARI RAYA NATAL 2011

"Damai di Bumi, Damai di Hati"

BEM FIKOM 2011/2012

Taat dan setia pada Tri Dharma Perguruan Tinggi

LDK Fikom

Latihan Dasar Kepemimpinan, sebuah proses awal dari langkah sang pemimpin.

LDK Fikom

Setiap individu tercipta sebagai seorang pemimpin.

Makrab Fikom

Satu dalam kebersamaan insan komunikasi

Makrab Fikom

Senyum Fikomers 2010.

Makrab Fikom

Life is a games

Communication Days 2010

Peserta Commdays 2010

Communication Days 2010

Praktisi PR: Makroen Sanjaya (Metro TV), Iskandar Tumbuan (Mandiri Bank), Ratu Maulia Ommaya (The Bodyshop Indonesia) bersama Ibu Nawiroh Vera dan Beryl Masdiary.

Communication Days 2010

Michael Gumelar (praktisi DKV), Wahyu Aditya (Animator), bersama Ibu Riyodina (dosen) dan Ibu Liza Dwi Ratna Dewi (Dekan FIKOM).

Communication Days 2010

Atmadji Sumarkidjo (Wartawan Senior), Herwin Krisbianto (Produser TV One), Medya Apriliansyah (dosen), dan Prabu Revolusi (News Anchor Metro TV).

Communication Days 2010

Organizer Communication Days 2010

Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

Menjadi Jurnalis itu Menyenangkan

Menjadi Jurnalis merupakan salah satu prospek kerja yang diharapkan dari lulusan civitas akademika Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur, khususnya konsentrasi Broadcast Journalism. Seorang Jurnalis diperlukan keuletan, wawasan yang luas serta rasa percaya diri yang tinggi. Keempat Fikomers Budi Luhur; Melati, Windri, Ira dan Lusi tampak berusaha menjalankan tugas awalnya sebagai bakal calon Jurnalis, seperti yang dikutip DetikNews berikut:


Jakarta - "Pemirsa, saat ini saya sedang berada di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat ini sedang dibacakan putusan terdakwa kasus terorisme, Abu Bakar Ba'asyir."

Demikianlah, sepenggal kalimat pembuka yang disampaikan oleh Melati, mahasiswi jurusan broadcast journalism Universitas Budiluhur, Jakarta. Melati dan 3 orang temannya tidak sedang liputan. Melainkan mempraktikkan materi kuliah teknik reportase sekaligus mengerjakan tugas praktek.

Melati datang bersama teman-temannya, Windri, Ira dan Lusi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta, Kamis (16/6/2011), untuk belajar mengumpulkan berita, mengolah, kemudian melaporkannya secara langsung di depan kamera.

Tidak perlu membawa kamera segede gaban, seperti jurnalis TV profesional. Mereka cuma membawa kamera SLR dan handycam. Berempat, mereka pun gantian mejeng di depan kamera. Ada yang jadi kamerawan, dan ada juga yang jadi reporter.

Mereka tak canggung harus berakting di tengah teriknya matahari dan disaksikan ratusan pendukung Ba'asyir di depan PN Jaksel. Demi nilai dan pengalaman, rasa malu pun dikesampingkan.

"Tadi kita masih melaporkan kondisi pendukung, suasana, dan sebagainya. Kita sekarang tunggu hasil putusan, setelah itu mau live lagi," kata Windri.

"Tadi baru latihan, sambil nunggu putusan," sambung Lusi.

Keempat ABG ini memang bercita-cita menjadi jurnalis. Utamanya jurnalis TV. Tapi kalau pun menjadi jurnalis media cetak, juga tidak masalah.

"Soalnya jurnalis cetak lebih lengkap," celetuk Ira.

Untuk 'liputan' sidang Ba'asyir, mereka sebelumnya melakukan riset. Mulai dari browsing internet, sampai baca-baca di media.

Terbukti, saat detikcom iseng tanya berapa tahun Ba'asyir dituntut, mereka kompak menjawab "Seumur hidup."

"Menjadi jurnalis itu menyenangkan, bisa memberi informasi kepada orang lain," kata Windri.

(anw/nwk)
Tak tanggung-tanggung, Situs Warta Era Digital berjangka Nasional, seperti DetikNews mengapresiasi semangat mereka dengan memuat keempat Fikomers Budi Luhur tersebut dalam sajian beritanya. Menjadi seorang Jurnalis tentu tak mudah secara kasat mata, namun bila dilakukan dengan niat, usaha dan kemauan akan menjadi hal yang menyenangkan. semoga wacana ini dapat memberikan inspirasi dan semangat bagi segenap warga FIKOM BUDI LUHUR lainnya, tetap semangat dan selamat berkarya! salam Komunikasi! (BYU)

Sabtu, 07 Mei 2011

Indonesia Mengajar: Jadilah Pengajar Muda III



Melalui Indonesia Mengajar, kita mengajak putra-putri terbaik di republik ini, generasi baru yang terdidik, berprestasi dan memiliki semangat juang untuk menjadi Guru SD selama 1 tahun di pelosok Indonesia.

Indonesia Mengajar adalah sebuah ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia Mengajar tidak berpretensi untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan di Indonesia. Indonesia Mengajar meyakini bahwa hadirnya putra-putri terbaik Indonesia sebagai guru mendorong peningkatan kualitas pendidikan kita.

Indonesia Mengajar yakin bahwa pendidikan adalah sebuah gerakan. Pendidikan bukan sekedar program yang dijalankan pemerintah, sekolah dan para guru. Pendidikan adalah gerakan mencerdaskan bangsa yang harus melibatkan semua orang. Ini semua didasarkan pada keyakinan kita bahwa mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Indonesia Mengajar menempatkan sarjana-sarjana terbaik di pelosok negeri. Kehadiran mereka disana untuk mengajar, mendidik, menginspirasi dan menjadi jembatan bagi masyarakat desa-desa dengan pusat-pusat kemajuan. Di pelosok negeri itu, para Pengajar Muda akan memiliki kawan baru, rumah baru, dan keluarga baru. Desa-desa itu akan selalu menjadi bagian dari diri mereka. Begitu juga sebaliknya, para Pengajar Muda itu akan meninggalkan ilmu, inspirasi dan kenangan di masyarakat desa di pelosok negeri. Tanda pahala para Pengajar Muda itu akan membekas di setiap prestasi anak-anak dan di setiap kemajuan di desa-desa. Indonesia Mengajar yakin bahwa itu semua adalah rajutan erat yang akan menguatkan tenun kebangsaan kita.

Indonesia Mengajar yakin bahwa "Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi"
- Anies Baswedan -
  
Mulailah cerita besar-mu dari langkah kecil pertama-mu...
Jadilah Pengajar Muda angkatan berikutnya!

Apakah Anda generasi muda terbaik bangsa ini? 
Indonesia Mengajar mengundang Anda menjadi Calon Pengajar Muda angkatan III. Pendaftaran berlangsung pada 20 April - 31 Mei 2011 secara online. Mau tahu syaratnya?
  • Sarjana (Min. S1)
  • Fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu
  • WNI dan belum menikah
  • Diutamakan berusia tidak lebih dari 25 tahun
  • Diutamakan IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0
  • Berprestasi (di dalam ataupun di luar kampus)
  • Mengedepankan jiwa kepemimpinan yang ditunjukkan dengan pengalaman berorganisasi
  • Mengedepankan kepedulian sosial dan semangat pengabdian
  • Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya belajar-mengajar
  • Menghargai dan berempati terhadap orang lain
  • Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving
  • Memiliki hobi atau ketrampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat
  • Sehat secara fisik dan mental
  • Bersedia ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun

ayo Fikomers... 
apakah diantara anda merasa memenuhi persyaratan di atas?
Segera daftarkan diri Anda di sini!

Kamis, 17 Juni 2010

Keep Your Friends Close but Enemies Closer

adakah diantara kawan-kawan memiliki seorang musuh?
mungkin kalimat ini sedikit berguna untuk mencerahkan pemikiran kalian.

"Keep your friends close but keep your enemies closer..."
Dekatilah teman-temanmu tapi lebih dekatilah musuh-musuhmu...

sekilas memang kalimat ini terdengar aneh dan tak masuk akal.
kalimat yang diungkapkan oleh Sun Tzu ini memiliki makna yang realistik dan strategis. Ia melihat realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. musuh selalu identik berkonotasi negatif, bahkan ada yang mengenalnya sebagai musuh bebuyutan (musuh seumur hidup).
seorang teman ataupun sahabat bukanlah hal yang aneh bila kita dekati, namun yang diungkapkan oleh Sun Tzu justru sebaliknya. Ia lebih menekankan pada 'musuh'.

selama ini, sudah lazim bila pada kenyataannya kita lebih mendekati teman dan menjauhi musuh. bahkan kita akan memilih untuk menjaga jarak dengan musuh itu. benarkah? ya, kita tak dapat menyangkalnya...
seorang musuh bagi Sun Tzu adalah seorang sahabat. dan Ia mengungkapkan bahwa tak selamanya musuh itu adalah lawan. selama diri kita sendiri tidak menganggapnya sebagai lawan, ia bisa menjadi seorang sahabat yang baik.

bagaimana mungkin seorang musuh harus didekati?
inilah pertanyaan besar yang sering diungkapkan. Ya, sangat mungkin...
sejauh kita memaknai musuh itu sebagai orang yang berarti bagi kita, tentu akan terjadi.
dalam hal ini contoh yang sangat konkret terjadi dalam dunia politik. Dalam bertaktik, tentu politikus yang handal akan mengimplikasikan teori Sun Tzu ini. ada pepatah yang mengatakan: "tidak ada yang tidak mungkin dalam politik" memang benar adanya. :)

bila bicara politik, tentu satu halaman tidak akan cukup semalaman :D


ketika kita memiliki musuh, sangat disayangkan bila kita justru menjauhinya. kita sendiri seakan-akan melakukan hal yang sia-sia dan tak ada untungnya. hanya akan menambah penat pikiran dan dosa yang merugikan kita sendiri :)


YA, musuh tidak selalu identik negatif. pikiran negatif pada musuh dapat berubah menjadi positif sejauh kita memiliki inisiatif. bukankah memperbanyak kawan akan jauh lebih sempurna daripada sekedar mencari musuh??

dengan begitu, masih berartikah kita memiliki musuh seumur hidup kita?
dekatilah dia, anggaplah dia sebagai sahabat, maka kawan-kawan sendiri akan merasakan betapa indahnya persaudaraan hidup ini. :)


By: Christophorus Bayu Kurniawan

blog-indonesia.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More